Assalamu’alaikum Sobat
Gue…………….
Apa kabar pagi ini????semoga sehat ya,,
okeh.Kalian pernah mendengar dinasti ayyubiyah???tahukah kalian pendirinya?
Yap,itulah sang pendekar pada perang salib Shalahuddin Al-Ayyubi. Beliau adalah
raja kerajaan ayyubiyah.Mau tahu biografinya??okelah kalo begitu, ini dia
biografinya….
Shalahuddin Al-Ayyubi sebenarnya hanya nama
julukan dari Yusuf bin Najmuddin. Shalahuddin merupakan nama gelarnya,
sedangkan al-Ayyubi nisbah keluarganya. Beliau sendiri dilahirkan pada tahun
532 H/ 1138 M di Tikrit, sebuah wilayah Kurdi di utara Iraq. Sejak kecil
Shalahuddin sudah mengenal kerasnya kehidupan.

Pada usia 14 tahun, Shalahuddin
ikut kaum kerabatnya ke Damaskus, menjadi tentara Sultan Nuruddin, penguasa
Suriah waktu itu. Karenan memang pemberani, pangkatnya naik setelah tentara
Zangi yang dipimpin oleh pamannya sendiri, Shirkuh, berhasil memukul mundur
pasukan Salib (crusaders) dari perbatasan Mesir dalam serangkaian pertempuran.
Pada tahun 1169, Shalahuddin diangkat menjadi panglima dan
gubernur (wazir) menggantikan pamannya yang wafat. Setelah berhasil mengadakan
pemulihan dan penataan kembali sistem perekonomian dan pertahanan Mesir,
Shalahuddin mulai menyusun strateginya untuk membebaskan Baitul Maqdis dari
cengkeraman tentara Salib.
Shalahuddin terkenal sebagai penguasa yang menunaikan
kebenaran—bahkan memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme. Tepat pada bulan
September 1174, Shalahuddin menekan penguasa Dinasti Fatimiyyah supaya tunduk
dan patuh pada Khalifah Daulat Abbasiyyah di Baghdad. Belom cukup sampai di
situ, tiga tahun kemudian, sesudah kematian Sultan Nuruddin, Shalahuddin
melebarkan sayap kekuasaannya ke Suriah dan utara Mesopotamia.
Satu persatu wilayah penting berhasil dikuasinya: Damaskus (pada
tahun 1174), Aleppo atau Halb (1138) dan Mosul (1186). Sebagaimana diketahui,
berkat perjanjian yang ditandatangani oleh Khalifah Umar bin Khattab dan Uskup
Sophronius menyusul jatuhnya Antioch, Damaskus, dan Yerusalem pada tahun 636 M,
orang-orang Islam, Yahudi dan Nasrani hidup rukun dan damai di Suriah dan
Palestina.
Mereka bebas dan aman menjalankan ajaran agama masing-masing di
kota suci tersebut. Perang Salib Namun kerukunan yang telah berlangsung
selama lebih 460 tahun itu kemudian porak-poranda akibat berbagai hasutan dan
fitnah yang digembar-gemborkan oleh seorang patriarch bernama Ermite.
Provokator ini berhasil mengobarkan semangat Paus Urbanus yang
lantas mengirim ratusan ribu orang ke Yerusalem untuk Perang Salib Pertama.
Kota suci ini berhasil mereka rebut pada tahun 1099.
Ratusan ribu orang Islam dibunuh dengan kejam dan biadab,
sebagaimana mereka akui sendiri: “In Solomon’s Porch and in his temple, our men
rode in the blood of the Saracens up to the knees of their horses.” Menyadari
betapa pentingnya kedudukan Baitul Maqdis bagi ummat Islam dan mendengar
kezaliman orang-orang Kristen di sana, maka pada tahun 1187 Shalahuddin
memimpin serangan ke Yerusalem. Orang Kristen mencatatnya sebagai Perang Salib
ke-2.
Pasukan Shalahuddin berhasil mengalahkan tentara Kristen dalam
sebuah pertempuran sengit di Hittin, Galilee pada 4 July 1187. Dua bulan
kemudian (Oktober tahun yang sama), Baitul Maqdis berhasil direbut kembali.
Berita jatuhnya Yerusalem menggegerkan seluruh dunia Kristen dan
Eropa khususnya. Pada tahun 1189 tentara Kristen melancarkan serangan balik
(Perang Salib ke-3), dipimpin langsung oleh Kaisar Jerman Frederick Barbarossa,
Raja Prancis Philip Augustus dan Raja Inggris Richard ‘the Lion Heart’. Perang
berlangsung cukup lama. Baitul Maqdis berhasil dipertahankan, dan gencatan
senjata akhirnya disepakati oleh kedua-belah pihak.
Pada tahun 1192 Shalahuddin dan Raja Richard menandatangani
perjanjian damai yang isinya membagi wilayah Palestina menjadi dua: daerah
pesisir Laut Tengah bagi orang Kristen, sedangkan daerah perkotaan untuk orang
Islam; namun demikian kedua-belah pihak boleh berkunjung ke daerah lain dengan
aman.
Setahun kemudian, tepatnya pada 4 Maret 1193, Shalahuddin
menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ketika meninggal dunia di Damaskus,
Shalahuddin tidak memiliki harta benda yang berarti. Padahal beliau adalah
seorang pemimpin. Tapi hal baik yang ditinggalkan oleh orang baik selalu akan
menjadi bagian kehidupan selamanya.
Kontribusinya buat Islam sungguh tidak pernah bisa diukur dengan
apapun di dunia ini. Parcel untuk
Musuh Banyak
kisah-kisah unik dan menarik seputar Shalahuddin al-Ayyubi yang layak dijadikan
teladan, terutama sikap ksatria dan kemuliaan hatinya. Di tengah suasana
perang, ia berkali-kali mengirimkan es dan buah-buahan untuk Raja Richard yang
saat itu jatuh sakit.
Ketika menaklukkan Kairo, ia tidak serta-merta mengusir keluarga
Dinasti Fatimiyyah dari istana-istana mereka. Ia menunggu sampai raja mereka
wafat, baru kemudian anggota keluarganya diantar ke tempat pengasingan mereka.
Gerbang kota tempat benteng istana dibuka untuk umum. Rakyat dibolehkan tinggal
di kawasan yang dahulunya khusus untuk para bangsawan Bani Fatimiyyah. Di
Kairo, ia bukan hanya membangun masjid dan benteng, tapi juga sekolah,
rumah-sakit dan bahkan gereja.
Shalahuddin juga dikenal sebagai orang yang saleh dan wara‘. Ia
tidak pernah meninggalkan salat fardu dan gemar salat berjamaah. Bahkan ketika
sakit keras pun ia tetap berpuasa, walaupun dokter menasihatinya supaya
berbuka. “Aku tidak tahu bila ajal akan menemuiku,” katanya. Shalahuddin amat
dekat dan sangat dicintai oleh rakyatnya. Ia menetapkan hari Senin dan Selasa
sebagai waktu tatap muka dan menerima siapa saja yang memerlukan bantuannya. Ia
tidak nepotis atau pilih kasih.
Pernah seorang lelaki mengadukan perihal keponakannya, Taqiyyuddin.
Shalahuddin langsung memanggil anak saudaranya itu untuk dimintai keterangan.
Pernah juga suatu kali ada yang membuat tuduhan kepadanya. Walaupun tuduhan
tersebut terbukti tidak berdasar sama sekali, Shalahuddin tidak marah. Ia
bahkan menghadiahkan orang yang menuduhnya itu sehelai jubah dan beberapa
pemberian lain. Ia memang gemar menyedekahkan apa saja yang dimilikinya dan
memberikan hadiah kepada orang lain, khususnya tamu-tamunya. Ia juga dikenal
sangat lembut hati, bahkan kepada pelayannya sekalipun. Pernah ketika ia sangat
kehausan dan minta dibawakan segelas air, pembantunya menyuguhkan air yang agak
panas. Tanpa menunjukkan kemarahan ia terus meminumnya. Kezuhudan Shalahuddin
tertuang dalam ucapannya yang selalu dikenang: “Ada orang yang baginya uang dan
debu sama saja.”
Gimana, udah ada motivasi untuk menjadi raja
yang disengani? Kalo mau belajarlah ilmu putih jangan ilmu hitam,karena ini
udah jaman modern bukan jamannya pake guna-guna….
Salam Dari Gue,Rian
Wassalam……