Assalamu’alaikum
Sobat Gue………
Hy sobat gue, gimana?udah gk sabarannya dengan postingan
gue?. Okew, sobat pernah pacaran?emang sih pacaran itu menyenangkan, tapi ada
sisi negative sih , salah satunya zina mata (salah duanya gue gak tau..), tapi
apasih keuntungan kalau ta’aruf?dan apasih sebenarnya ta’aruf itu?.Okew yuk
kita simak….
Proses
’ta’aruf’ merupakan suatu proses awal menuju proses selanjutnya, yaitu khitbah
dan akhirnya sebuah pernikahan. Memang tidak semua sukses sampe tahap itu. Sang
Sutradaralah yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasaNya. Manusia
hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggamanNya. Tapi kita
manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau
syurga or neraka, mau sukses ato gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah
Yang Maha Menentukan.
Berikut
tata cara bertaaruf dalam islam dirangkum dalam pertanyaan dan jawaban
1)}.
Bagaimana cara ta’aruf yang tidak melanggar agama, apa syaratnya?
Tidak
ada aturan baku atau ketetapan khusus mengenai tata cara berta’aruf, namun
harus tetap memperhatikan adab-adab dalam bergaul antara pria dan wanita.
Ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menjalankan proses ta’aruf agar
tidak melanggar agama, diantaranya:
1.
Membersihkan niat karena Allah
Bersihkan niat, dan ikhlaskan menikah adalah ibadah semata untuk mencari ridhaNya. Tidak mudah memang menerima “calon suami/istri” kita apa adanya, apabila yang datang tidak sesuai dengan “kriteria” yang kita harapkan. Di sinilah sandungan/ujian pertama keikhlasan kita.
Bersihkan niat, dan ikhlaskan menikah adalah ibadah semata untuk mencari ridhaNya. Tidak mudah memang menerima “calon suami/istri” kita apa adanya, apabila yang datang tidak sesuai dengan “kriteria” yang kita harapkan. Di sinilah sandungan/ujian pertama keikhlasan kita.
2.
Berupaya menjaga kesucian acara ta’aruf
Agar kesucian acara ta’aruf terjaga maka harus jaga rambu-rambu syariah (tidak boleh berkhalwat, menjaga pandangan, menjaga aurat dll,) memilih tempat yang tepat (bukan tempat mencurigakan seperti kamar kos yang sempit, dan lain-lain) serta menjaga rahasia ta’aruf (sebaiknya orang lain [kecuali perantara] hanya tahu rencana pernikahan dari undangan saja)
Agar kesucian acara ta’aruf terjaga maka harus jaga rambu-rambu syariah (tidak boleh berkhalwat, menjaga pandangan, menjaga aurat dll,) memilih tempat yang tepat (bukan tempat mencurigakan seperti kamar kos yang sempit, dan lain-lain) serta menjaga rahasia ta’aruf (sebaiknya orang lain [kecuali perantara] hanya tahu rencana pernikahan dari undangan saja)
3.
Kejujuran kedua belah pihak dalam ta’aruf
Selama proses ta’aruf maka kedua belah pihak dipersilahkan menanyakan apa saja yang kamu butuhkan untuk mengarungi rumah tangga nantinya contohnya mengenai keadaan keluarga, prinsip dan harapan hidup, sesuatu yang disukai dan tidak disukai dll. Didalam ta’aruf, kamu ngak boleh bohong, ceritakan dirimu apa adanya, sehingga kedua belah pihak akan mengetahui bagaimana calonnya tersebut.
Selama proses ta’aruf maka kedua belah pihak dipersilahkan menanyakan apa saja yang kamu butuhkan untuk mengarungi rumah tangga nantinya contohnya mengenai keadaan keluarga, prinsip dan harapan hidup, sesuatu yang disukai dan tidak disukai dll. Didalam ta’aruf, kamu ngak boleh bohong, ceritakan dirimu apa adanya, sehingga kedua belah pihak akan mengetahui bagaimana calonnya tersebut.
4.
Selama proses ta’aruf, kedua belah pihak serius dan sopan dalam berbicara serta
menghindari membicarakan hal-hal yang tidak perlu.
5.
Menerima atau menolak dengan cara yang ahsan
Jika selama ta’aruf ditemukan kecocokan maka akan dilanjutkan kejenjang selanjutnya, namun jika selama ta’aruf tidak ditemukan kecocokan maka calon bisa menyudahi ta’aruf dengan cara yang baik dan menyatakan alasan yang masuk akal. Segera sampaikan ketidakcocokanmu, jangan sampai membuat calon menunggu lama, karena akan dikhawatirkan calon akan sangat kecewa karena telah terlalu berharap kepadamu.
Jika selama ta’aruf ditemukan kecocokan maka akan dilanjutkan kejenjang selanjutnya, namun jika selama ta’aruf tidak ditemukan kecocokan maka calon bisa menyudahi ta’aruf dengan cara yang baik dan menyatakan alasan yang masuk akal. Segera sampaikan ketidakcocokanmu, jangan sampai membuat calon menunggu lama, karena akan dikhawatirkan calon akan sangat kecewa karena telah terlalu berharap kepadamu.
6. Agar
ta’aruf tidak melanggar agama, maka sebaiknya diperlukan perantara. Megapa??
Karena:
1. Dengan adanya perantara maka akan membantu kita untuk mencari informasi mengenai pasangan ta’aruf kita.
2. Ta’aruf yang dilakukan tanpa perantara maka akan rentan dari kebersihan hati, sebab jika ta’aruf dilakukan hanya berdua saja maka semua hal bisa saja terjadi. Kata-kata yang tidak sepatut dikeluarkan atau diumbar akan begitu mudah terlontarkan.
3. Dengan adanya perantara maka akan membantu mempertegas proses ta’aruf. Seorang perantara akan membantu memberikan batas waktu kepada pasangan ta’aruf, kapan deadline ta’aruf, kapan ta’aruf selanjutnya dilakukan, kapan pertemuan dengan orang tua, kapan acara lamaran dll. Semuanya akan menjadi jelas dan tidak berlama-lama. Berbeda dengan ta’aruf yang kamu lakukan berdua saja , kamu dan calon bisa ngak jelas dalam menentukan deadline.
4. Dengan adanya perantara maka sedikitnya akan mengurangi fitnah yang terjadi.
1. Dengan adanya perantara maka akan membantu kita untuk mencari informasi mengenai pasangan ta’aruf kita.
2. Ta’aruf yang dilakukan tanpa perantara maka akan rentan dari kebersihan hati, sebab jika ta’aruf dilakukan hanya berdua saja maka semua hal bisa saja terjadi. Kata-kata yang tidak sepatut dikeluarkan atau diumbar akan begitu mudah terlontarkan.
3. Dengan adanya perantara maka akan membantu mempertegas proses ta’aruf. Seorang perantara akan membantu memberikan batas waktu kepada pasangan ta’aruf, kapan deadline ta’aruf, kapan ta’aruf selanjutnya dilakukan, kapan pertemuan dengan orang tua, kapan acara lamaran dll. Semuanya akan menjadi jelas dan tidak berlama-lama. Berbeda dengan ta’aruf yang kamu lakukan berdua saja , kamu dan calon bisa ngak jelas dalam menentukan deadline.
4. Dengan adanya perantara maka sedikitnya akan mengurangi fitnah yang terjadi.
Kebanyakan
orang mengira bahwa perantara ta’aruf adalah murabbi atau guru agama. Padahal
siapa saja bisa menjadi perantara, misalnya orangtua, teman, saudara dan
sebagainya. Kita pun bisa menjadi perantara, asalkan kita tahu dengan jelas
siapa yang akan diperantarai dan mengetahui bagaimana cara ta’aruf yang
dibenarkan oleh agama. Sebaiknya yang menjadi perantara adalah mereka yang
telah menikah karena mereka sudah mengetahui proses menuju pernikahan dan untuk
menghindari fitnah yang terjadi dengan salah satu calon ta’aruf.
2)}.
Bagaimana proses ta’aruf yang sebenarnya?
Dalam
hal ini juga tidak ada ketetapan khusus. Proses ta’aruf bisa dilakukan dengan
berbagai cara, namun harus tetap sesuai dengan adab-adab dalam bergaul antar
lawan jenis.
Ada
proses ta’aruf (ta’aruf yang saya ketahui jika melalui murabbi) dimulai dengan
membuat proposal (biodata diri) kemudian saling menukar biodata, mengadakan
proses pertemuan disuatu tempat dengan disertai murabbinya, proses percakapan
dengan calon pasangan dengan hijab/tabir yang menghalangi keduanya saling
bertatapan, proses melihat calon pasangan, proses meminta kepastian apakah
ta’aruf akan dilanjutkan atau tidak, memberikan tenggang waktu untuk berpikir
atau melakukan istikharah, kemudian jika pasangan sudah merasa cocok maka akan
dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu kapan waktu khitbah dan proses
selanjutnya.
Adapun
proses yang saya ketahui jika melalui orang tua, saudara, sahabat dll yaitu
dimulai dengan menanyakan apakah bersedia diperkenalkan dengan calon ta’aruf,
menentukan kapan waktu ta’arufan, menentukan tempat pertemuan (biasanya pihak
pria datang kerumah pihak wanita, namun juga bisa ditempat lainnya),
memperkenalkan kedua calon ta’aruf (selama ini boleh mempertanyakan sesuatu
yang diperlukan), kedua calon pulang kerumah masing2 dan diberikan tenggang
waktu untuk berpikir atau istikharah, kemudian jika pasangan sudah merasa cocok
maka akan dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu kapan waktu khitbah dan
proses selanjutnya.
Kira-kira
begitulah proses ta’arufan yang saya ketahui, maaf jika dalam proses ini saya
salah menerangkan karna mengenai proses ta’aruf ini tidak ada ketetapan baku,
tergantung masing-masing dan harus tetap sesuai dengan adab bergaul antar lawan
jenis.
3)}.
Apakah Boleh pada saat Ta’aruf saling mengirim sms, saling menelepon?
Untuk
jawaban pertanyaan ini, saya akan mengutarakan 2 jawaban yang berbeda dari
berbagai sumber.
1. Ada yang menyatakan menelepon ataupun saling berkirim sms, hukumnya adalah mubah selama aktivitas tersebut tidak mengajak kepada kemungkaran atau kefasikan, hanya membicarakan yang seperlunya untuk mengetahui atau mengenali calon pasangan.
2. Ada yang menyatakan saling SMS dilarang. Betapa banyak mereka yang tergelincir disebabkan fitnah komunikasi. Tak pandang bulu, baik orang awam atau para penuntut ilmu agama. Fitnah hati memang sesuatu yang sulit dikendalikan, apalagi dalam masa kesendirian. Manusia hatinya sangat lemah. Di saat itulah setan masuk. Sehingga, seseorang tidak bisa beralasan bahwa dirinya mampu menjaga hati untuk melegalkan SMS dengan calon tambatan hati. Saat pintu-pintu keakraban terbuka, keintiman akan terbentuk. Misalnya dengan mengirim kata-kata yang belum selayaknya terucapkan.
1. Ada yang menyatakan menelepon ataupun saling berkirim sms, hukumnya adalah mubah selama aktivitas tersebut tidak mengajak kepada kemungkaran atau kefasikan, hanya membicarakan yang seperlunya untuk mengetahui atau mengenali calon pasangan.
2. Ada yang menyatakan saling SMS dilarang. Betapa banyak mereka yang tergelincir disebabkan fitnah komunikasi. Tak pandang bulu, baik orang awam atau para penuntut ilmu agama. Fitnah hati memang sesuatu yang sulit dikendalikan, apalagi dalam masa kesendirian. Manusia hatinya sangat lemah. Di saat itulah setan masuk. Sehingga, seseorang tidak bisa beralasan bahwa dirinya mampu menjaga hati untuk melegalkan SMS dengan calon tambatan hati. Saat pintu-pintu keakraban terbuka, keintiman akan terbentuk. Misalnya dengan mengirim kata-kata yang belum selayaknya terucapkan.
Nah…diantara
kedua jawaban tersebut maka pikirkanlah yang terbaik menurut sahabat, namun
alangkah baiknya untuk ber sms an (termasuk media lain yang hanya berkomunikasi
berduaan saja dengan calon pasangan) perlu dihindari untuk menjaga hati, segala
sesuatu mengenai pasangan bisa kita tanyakan kepada perantara. Tapi jika memang
diperlukan dan mendesak serta tidak bisa melalui mahramnya maka harus tetap
hati-hati, sms seperlunya saja, jangan ditambah-tambah dengan gurauan, rayuan
ataupun yang sejenisnya yang tidak perlu. Karena syetan sangat pandai menggoda
Bani Adam, maka berhati-hatilah dari tipu dayanya. Demikian juga pada umumnya
seorang akhwat jika diberikan perhatian oleh seorang ikhwan baik lewat sms,
tulisan atau yang sejenisnya maka dia akan tertarik walaupun ikhwan tersebut
tidak ada niatan untuk menggodanya. Oleh karena itu hindarilah percakapan yang
tidak penting, menghindari kata-kata yang dapat merusak hati dan jangan
melampoi batas, ber sms hanya seperlunya saja dalam rangka proses menuju
pernikahan. Karena dengan sering ber smsan dikhawatirkan akan menimbulkan
fitnah dan dapat terjerumus dalam kegiatan pacaran.
4)}
Apakah dengan sekali ta’aruf langsung nikah bisa menjamin keluarga SAMARA?
Pertanyaan
ini menurut saya sama halnya dengan pertanyaan “apakah dengan berpacaran
berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun pacaran bisa menjamin keluarga SAMARA?
Dan
jawabannya “tidak ada yang bisa menjamin apa-apa kecuali jika Allah menghendaki
dan tergantung dengan usaha suami istri dalam memperjuangkan sebuah hubungan
agar menjadi keluarga SAMARA”. Mengapa kita harus menjerumuskan diri kedalam
tindakan sia-sia (pacaran) jika tindakan tersebut juga tidak menjamin apa-apa
malah hanya akan menambah dosa.
Banyak
kok pasangan-pasangan yang hanya ta’arufan beberapa kali bertemu memiliki
keluarga SAMARA. Seperti halnya sahabat saya, yang masa ta’arufannya hanya
sekali pertemuan. Dalam waktu yang sesingkat itu mereka saling bertanya,
mengetahui apa yang dianggap mereka perlu. Setelah percakapan yang dirasa
cukup, akhirnya mereka sepakat untuk melanjutkan kejenjang selanjutnya. 2 tahun
sudah usia pernikahan mereka dan keluarga mereka sangat bahagia. Dan juga
sepupu saya yang sudah 10 thn lebih usia pernikahan mereka yang bahagia juga
dengan awal perkenalan melalui cara ta’aruf.
Banyak
orang berpendapat, bagaimana caranya dengan waktu yang sesingkat itu kita bisa
merasakan kecocokan, jika saya tidak menjalani hubungan bagaimana saya bisa
mengetahui kecocokan dalam berumah tangga apalagi disaat terjadi masalah??
Wajar
jika ada rasa khawatir nantinya akan tidak cocok, bagaimana nanti jika ada
perbedaan dan pertengkaran, oleh karena itu persiapkan hati, yakin dengan
proses yang dijalani, tanamkanlah sebuah komitmen inilah pilihan saya,dan saya
harus siap dengan segala resikonya dan tidak lupa berdoa terus mohon di beri
kelanggengan dalam rumah tangga. Namanya menikah tidak melulu harus sempurna,
saling belajar dan mencoba mencari kesamaan dan jalan keluar yang terbaik jika
ada pertengkaran. Yang terpenting dalam menjalaninya ikhlas tanpa paksaan,
ikhlas dengan pilihan dan ikhlas menerima segala kelebihan dan kekurangan
pasangan.
Banyak
juga kok yang pernikahanya bahagia, tidak terjadi permasalahan yang serius
dengan proses seperti ini. Sedangkan menjalani proses pacaran juga tidak
menjamin anda bisa lebih mengenal calon pasangan, dari cerita-cerita teman
tidak sedikit yang merasa terjadi perbedaan sikap dan karakter pasangan di saat
telah memasuki jenjang pernikahan, hal ini tidak menutup kemungkinan pada saat
pacaran yang jelek ditutupi, berbeda dengan ta’aruf dimana kedua calon pasangan
diminta untuk jujur dan menurut saya disitulah letak penjajakan yg sebenarnya
apakah si calon bisa menerima kekurangan tersebut.
Banyak
orang mengatakan pernikahan adalah akhir dari cinta, namun yang sebenarnya
pernikahan adalah awal dari sebuah cinta, karna dengan pernikahan inilah cinta
yang sesungguhnya dibuktikan dan diperjuangkan. Oleh karena itu, selama
ta’arufan, carilah sesuatu yang dapat membuat kita tertarik padanya. Sesuatu
yang dapat membuat ketertarikan inilah yang akan berkembang menjadi cinta dan
diperjuangkan selama pernikahan.
Udah dibaca?Udah dibandingin sama metode pacaran? Semoga gk
ada yang masuk kedalam kemungkaran ya, dan ingat! Jangan suka pergi berduaan
ya….
Sekian Dari Gue,Rian
Wassalam…..